Terhadap sebuah nikmat yang rutin Allah berikan,
Seringnya membuat manusia lupa mensyukurinya
.
.
Maka, Bukankah bernafas itu rizqi?
Tapi
seberapa sering kita berterimakasih atas rizqi bernafas itu, padahal
ada sekian banyak manusia yg bahkan untuk sekadar bernafas perlu bantuan
peralatan, hingga di setiap hembusan ada harga yg mesti dibayarkan
.
.
Terhadap sebuah nikmat yang rutin Allah berikan,
Seringnya membuat manusia lupa mensyukurinya
.
.
Maka, Bukankah sehat badan itu rizqi?
Tapi
seberapa sering kita berterimakasih atas sehatnya badan itu, padahal
ada sekian banyak manusia yg harus terbaring tak berdaya di rumah sakit,
maka apakah berguna harta yg sebukit?
.
.
Terhadap sebuah nikmat yang rutin Allah berikan,
Seringnya membuat manusia lupa mensyukurinya
.
.
Maka, Bukankah diberi kesempatan hidup itu rizqi?
Tapi
seberapa sering kita bersyukur atas kesempatan hidup, bahkan seringnya
diisi dg keburukan, sedikitnya kebaikan, padahal di alam sana ada orang
yang meminta, ""Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat
amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan" (QS. 23 : 99-100)
.
###
.
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا ۙ
اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا ۙ
وَاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا ۙ
اِلَّا الْمُصَلِّيْنَ ۙ .
"Sungguh,
manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa
kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia
jadi kikir,
kecuali orang-orang yang melaksanakan salat,
[QS. Al-Ma'arij:19-22]
.
Saat aku masih sering mengeluh, saat aku masih kurang bersyukur, maka pasti ada yg masih keliru pada shalatku.
.
Minggu, 29 Oktober 2017
Jumat, 27 Oktober 2017
Bersabar
Bukankah semakin pekat malam, pertanda sang fajar pun akan semakin cepat datang?
.
.
Maka bersabarlah, sahabat.
jangan pernah biarkan lumbung sabarmu menipis habis
Karena bisa jadi jarak pertolongan itu hanya tinggal setipis garis
Bersabarlah dengan kesabaran yang baik
.
.
فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا
"Maka bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik" [QS.70: 5]
.
.
Bersabar terhadap ujian diri,
Bersabar terhadap ujian negeri
Dan bersabar terhadap apapun yg tlah Allah beri.
.
.
Maka bersabarlah, sahabat.
jangan pernah biarkan lumbung sabarmu menipis habis
Karena bisa jadi jarak pertolongan itu hanya tinggal setipis garis
Bersabarlah dengan kesabaran yang baik
.
.
فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا
"Maka bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik" [QS.70: 5]
.
.
Bersabar terhadap ujian diri,
Bersabar terhadap ujian negeri
Dan bersabar terhadap apapun yg tlah Allah beri.
Kamis, 26 Oktober 2017
Fungsi mata dan mulut ?
Jika bisa berkata yang baik-baik, kenapa harus berkata yg buruk?
Kita tahu orang lain pun tidak suka pada perkataan buruk, sebagaimana kita juga tak suka padanya
Tapi kenapa masih saja lisan ini mengatakan hal buruk/kotor/menyakiti?
Maka sebagaimana dikatakan Ustadz Adi Hidayat,
Bahwa fungsi mulut itu bukanlah untuk bicara.
Tapi
untuk bicara yang baik-baik
Begitupun fungsi mata.
Apa fungsi mata?
Fungsi mata itu bukan untuk melihat.
Kalau hanya melihat, ayam pun melihat.
Tapi fungsi mata adalah untuk melihat yang baik-baik.
Rabu, 25 Oktober 2017
"Jangan Merasa Paling Benar !!!"
"Jangan merasa paling benar!!!"
Jeng-jeng. Ya, Itulah kira² sebuah kalimat yang dituan agungkan. sebuah kalimat di 'zaman now', yang rasa-rasanya sudah ramah sekali terngiang ditelinga hingga masuk ke dalam rongga² fikiran.
Namun pertanyaan selanjutnya adalah,
Kenapa jangan?
Kenapa tidak boleh merasa paling benar?
jika tidak boleh merasa benar, lalu apakah kita harus menjadi seorang peragu saja?
Lalu untuk apa pula ada kata salah jika semua orang berhak benar?
Jeng-jeng. Ya, Itulah kira² sebuah kalimat yang dituan agungkan. sebuah kalimat di 'zaman now', yang rasa-rasanya sudah ramah sekali terngiang ditelinga hingga masuk ke dalam rongga² fikiran.
Namun pertanyaan selanjutnya adalah,
Kenapa jangan?
Kenapa tidak boleh merasa paling benar?
jika tidak boleh merasa benar, lalu apakah kita harus menjadi seorang peragu saja?
Lalu untuk apa pula ada kata salah jika semua orang berhak benar?
Oh kawaaan, ternyata tidaaak. Ternyata memang tidak begitu.
Saya kira poinnya memang bukan kita tidak boleh merasa paling benar.
Ah boleh² saja kita merasa benar. Justru itu harus, sebab darinya akan muncul keyakinan, dan hanya dari keyakinanlah salah satu pra-syarat akan datangnya pertolongan/keajaiban.
Lalu apa yang menjadi tidak boleh?
Yang sesungguhnya tidak boleh itu adalah jika kita hendak memaksakan kebenaran itu. Itu lah yang menjadi kesalahan.
Ya, Karena jika sudah demikian, ujung²nya adalah keretakan hubungan hingga berbuah kerusakan.
Lalu apa lagi yang tidak boleh?
Yang tidak boleh selanjutnya adalah menutup diri. Atau bahasa zaman now nya "close minded" lawan dari "open minded".
Ya, Itulah yang tidak boleh.
Karena jika sudah demikian, bisa jadi ujung²nya adalah kesesatan, hingga berbuah kesombongan.
Begitu lah kawan.
(Aah sama aja, din)
Oh beda coy. Berbeda.
Justru pasal² ini lah harus yg harus kita dibedakan, untuk selanjutnya kita tempatkan ia pada posisi dan porsinya. tentunya dengan seadil-adilnya.
Ada bab yakin, bab ramah, bab open-mind, dan bab² lainnya. Inilah yang mesti diracik dengan adil.
*sebagai informasi, kau tak akan pernah mampu meraciknya dengan adil jika tanpa disertai tuntunan Yang Maha Adil.
Sekian,
Turnuhun.
Saya kira poinnya memang bukan kita tidak boleh merasa paling benar.
Ah boleh² saja kita merasa benar. Justru itu harus, sebab darinya akan muncul keyakinan, dan hanya dari keyakinanlah salah satu pra-syarat akan datangnya pertolongan/keajaiban.
Lalu apa yang menjadi tidak boleh?
Yang sesungguhnya tidak boleh itu adalah jika kita hendak memaksakan kebenaran itu. Itu lah yang menjadi kesalahan.
Ya, Karena jika sudah demikian, ujung²nya adalah keretakan hubungan hingga berbuah kerusakan.
Lalu apa lagi yang tidak boleh?
Yang tidak boleh selanjutnya adalah menutup diri. Atau bahasa zaman now nya "close minded" lawan dari "open minded".
Ya, Itulah yang tidak boleh.
Karena jika sudah demikian, bisa jadi ujung²nya adalah kesesatan, hingga berbuah kesombongan.
Begitu lah kawan.
(Aah sama aja, din)
Oh beda coy. Berbeda.
Justru pasal² ini lah harus yg harus kita dibedakan, untuk selanjutnya kita tempatkan ia pada posisi dan porsinya. tentunya dengan seadil-adilnya.
Ada bab yakin, bab ramah, bab open-mind, dan bab² lainnya. Inilah yang mesti diracik dengan adil.
*sebagai informasi, kau tak akan pernah mampu meraciknya dengan adil jika tanpa disertai tuntunan Yang Maha Adil.
Sekian,
Turnuhun.
Selasa, 24 Oktober 2017
Menafsirkan
Masih lekat dalam ingatan, suatu
ketika ada salah seorang temen yang bertanya kepada ku. Naga-naganya sih ia
baru saja rampung membaca terjemahan salah satu ayat Al-Qur’an. Dan kebetulannya
ternyata ayat yang ia baca adalah ayat tentang perang. Maka dari sanalah muncul
tanggapa/pernyataan dari dia terhadap ayat tersebut,
ia bertanya, “loh din, kok islam gini sih ya, nyuruh-nyuruh perang/membunuh dsb? Gimana ini, Katanya agama yang damai, Katanya agama yang rahmatan lil alamin dll”
ia bertanya, “loh din, kok islam gini sih ya, nyuruh-nyuruh perang/membunuh dsb? Gimana ini, Katanya agama yang damai, Katanya agama yang rahmatan lil alamin dll”
Lalu aku pun mencoba menjawab, yang
tak lain jawabanku terhadap pertanyaannya adalah jawaban dari guru-guruku yang
dulu pernah ku reguk ilmu agama darinya. Ku menjawab, “hei kawan, terlalu cepat
engkau menyimpulkan, lagian yang kau baca itu terjemahan, tidak cukup belajar
al-qur’an hanya dari terjemah. Sedang orang arab saja belum tentu paham isi
qur’an, karena memang pada setiap katanya bernilai sastra yang tinggi, perlu menguasai
banyak instrumen keilmuwan untuk dapat menyimpulkan/menafsirkannya”
Ya, atas kejadian itu, akhirnya
aku pun semakin yakin bahwa memahami al-qur’an memang tidak cukup hanya membaca
dari terjemah. Meski tidak berarti pula kita menjadi haram membaca terjemah.
Tidak, justru terjemah adalah pintu gerbang kita menuju tahap penafsiran serta
penyimpulan suatu ayat. Yang tidak diperkenankan adalah hanya mencukupkan diri
pada terjemah setelah itu bahkan menyimpulkan. Ah, tentu hal ini lah yang tidak
dibenarkan.
Adapun, berikut merupakan salah
satu ilmu yang penulis dapatkan dari kajian bersama Ust. Nur Ihsan Jundullah
(alumni Universitas Ummul Qura’). Dari sini semakin meyakinkan penulis, bahwa
ada hikmah yang besar kenapa Allah pilihkan Bahasa Arab sebagai media
komunikasi kepada makhluknya (manusia). Dan dari sini pun semakin meyakinkan penulis
bahwa membaca terjemah indonesia (dari al-qur’an) sangatlah tidak mencukupi,
dan memadai.
Sebagai contoh pertama, silakan
cek QS Al’Araf : 198
Kurang lebih Terjemahan bahasa
indonesianya begini :
“Dan jika kamu menyeru mereka
(berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. Dan
kamu melihat mereka melihatmu padahal mereka tidak melihat”
Nah, kawan pembaca budiman, kita
dapat lihat disana digunakan kata yang sama yakni melihat.
Padahal nih dalam kata arabnya
digunakan 3 kata berbeda. Ada ro-a’, lalu nadzoro, dan bashiro. Dan tentunya
arti ketiga kata tersebut tidak sama. tentu ada maksud tertentu Allah
menggunkan 3 kata berbeda. (tapi saat diterjemahkan, justru diterjemahkan pada
kata yang sama)
- Ro-a’ artinya melihat dengan memikirkan. Misal klo dalam konteks Indonesia, “bagaimana kamu melihat pertandingan timnas Indonesia semalam?” nah disana tidak sekedar melihat semata-mata melihat. Tetapi ada upaya untuk memikirkan dari apa yang dilihat.
- Nadzoro artinya melihat dengan menunggu-nunggu sesuatu itu terjadi. Atau dalam prakteknya, kurang lebih yang disebut nadzoro itu melihat dengan tatapan yang cenderung bengong gitu lah (makanya kenapa pula kata itu digunakan pada subjek berhala)
- Sedangkan bashir. Bashir ini Artinya melihat
dengan penuh perasaan. Melihat yang tidak sekedar melihat, tetapi ada
penghayatan dan akan aksi dari apa yg ia lihat. Mungkin bisa dibilang ada rasa
‘empati’/kasih sayang lah. (makanya kenapa pula kata bashir ini digunakan pada
subjek Allah).
FYI : dan makanya kenapa jg di alquran ada istilah "ghaddul bashar" (menundukkan pandangan). nah kenapa kok yg digunakan itu "bashar", bukan "nadhor" ataupun "ro'yun". Nah inilah, karena Allah memang bukan melarang untuk tidak melihat sama sekali pd lawan jenis, namun palingkanlah pandangan saat kita sudah mulai melihatnya dg penuh perasaan (syahwat)
Nah itulah contoh pertama, telah
diulas bahwa ada 3 kata berbeda dalam bahasa arab, namun saat diterjemahkan (pd
B. Indonesia), hanya direpresentasikan dalam 1 kata. Sehingga sedikit banyak
tentunya akan menimbulkan penyempitan makna.
Baik, contoh kedua. Dalam bahasa
arab ada kata “tilawah” dengan “qiroah”. Namun dalam bahasa Indonesia keduanya kurang
lebih diterjemahkan sama, yakni membaca.
Padahal tentunya penggunaan kata
yang berbeda dalam al-qur’an pastinya mempunyai maksud yang berbeda pula. Kira-kira
penjelasannya :
- Kata Tilawah (berasal dari kata tala-a) yang artinya adalah membaca namun dengan disertai dampak setelahnya
- Qiroah (dari kata qoro’a) itu artinya membaca namun hanya sekedar membaca (tanpa adanya efek)
- Oleh karenanya di ayat 2 Surat Al-Anfal digunakan kata “tuliyat ‘alayhim aayatuhuu. . .” yang kira2 artinya “dan apabila dibacakan kepadanya ayat2 alqur’an akan bertambah imannya”.
- Nah disana menggunakan kata tilawah bukan qiroah. Karena memang orang yang bertilawah itu akan membawa efek penambahan iman pada dirinya
- Berbeda dengan qiroah. Makanya penggunaan qiroah
ada dalam hadis nabi. Yang kira2 substansinya “apabila kamu membaca alquran
kamu dpt kebaikan dari setiap hurufnya. Namun jika kamu membaca dengan
terbata-bata (susah payah) mendapat 2x lipatnya
- Nah disana digunakan kata qoroa’. Karena dia memang hanya membaca. Bahkan terbata-bata. Otomatis tak tahu pula maknanya.
Demikianlah, kiranya dua contoh
diatas yang menjadi alasan (yg cukup beralasan) betapa pentingnya memahami
tafsir dengan baik. Itu baru segi linguistik (bahasa) loh. Belum lagi kajian
sejarahnya (asbabun nuzul dll). Maka sangat jelaslah tidak cukup kita memahami
alquran hanya dengan membaca terjemah. Apalagi langsung menyimpulkan. Ooh tidak
– tidak. Terlalu cepat itu. Padahal bahasa alquran itu bahasa dengan tingkat
sastra yang tinggi. Maka diperlukan pula
instrumen2 kelimuwan (disiplin ilmu) untuk sampai pada tahap menafsirkan.
demikian
Wallahu a'lam
HKM
Langganan:
Postingan (Atom)
