Rabu, 25 Oktober 2017

"Jangan Merasa Paling Benar !!!"

"Jangan merasa paling benar!!!"

Jeng-jeng. Ya, Itulah kira² sebuah kalimat yang dituan agungkan. sebuah kalimat di 'zaman now', yang rasa-rasanya sudah ramah sekali terngiang ditelinga hingga masuk ke dalam rongga² fikiran.


Namun pertanyaan selanjutnya adalah,
Kenapa jangan?
Kenapa tidak boleh merasa paling benar?
jika tidak boleh merasa benar, lalu apakah kita harus menjadi seorang peragu saja?
Lalu untuk apa pula ada kata salah jika semua orang berhak benar?



Oh kawaaan, ternyata tidaaak. Ternyata memang tidak begitu.
Saya kira poinnya memang bukan kita tidak boleh merasa paling benar.
Ah boleh² saja kita merasa benar. Justru itu harus, sebab darinya akan muncul keyakinan, dan hanya dari keyakinanlah salah satu pra-syarat akan datangnya pertolongan/keajaiban.


Lalu apa yang menjadi tidak boleh?
Yang sesungguhnya tidak boleh itu adalah jika kita hendak memaksakan kebenaran itu. Itu lah yang menjadi kesalahan.
Ya, Karena jika sudah demikian, ujung²nya adalah keretakan hubungan hingga berbuah kerusakan.


Lalu apa lagi yang tidak boleh?
Yang tidak boleh selanjutnya adalah menutup diri. Atau bahasa zaman now nya "close minded" lawan dari "open minded".
Ya, Itulah yang tidak boleh.
Karena jika sudah demikian, bisa jadi ujung²nya adalah kesesatan, hingga berbuah kesombongan.
Begitu lah kawan.


(Aah sama aja, din)


Oh beda coy. Berbeda.
Justru pasal² ini lah harus yg harus kita dibedakan, untuk selanjutnya kita tempatkan ia pada posisi dan porsinya. tentunya dengan seadil-adilnya.
Ada bab yakin, bab ramah, bab open-mind, dan bab² lainnya. Inilah yang mesti diracik dengan adil.

*sebagai informasi, kau tak akan pernah mampu meraciknya dengan adil jika tanpa disertai tuntunan Yang Maha Adil.


Sekian,
Turnuhun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar